Secara umum orang akan percaya apa yang ditunjukan dari suatu alat. Sebagai contoh orang yang awam akan begitu saja percaya angka yang ditunjukan oleh suatu alat misalnya pengatur suhu pada oven atau inkubator. Sejatinya apakah penunjukan tersebut benar-benar nilai temperatur dari alat tersebut ? Jawabannya mungkin dengan proses kalibrasi menjadi solusi sehingga kita mengetahui berapa sich koreksi dari alat oven atau inkubator tersebut.

Pada beberapa tahun yang lalu terjadi suatu peristiwa dimana di sebuainkubatorh rumah sakit ada seorang bayi yang mengalami kematian akibat luka bakar yang cukup serius. Kejadian ini mungkin disebabkan setting suhu yang terlalu tinggi sehingga mengakibatkan luka bakar terhadap kulit si bayi. Kelalain petugas rumah sakit mungkin awalnya menjadi dugaan sebab utama terjadinya kematian pada bayi. Akan tetapi jika ditelusur lebih lanjut ternyata bukan hanya dikarenakan faktor human of error saja akan tetapi adanya koreksi suhu pada alat oven / inkubator ditambah lagi ketidaktahuan petugas rumah sakit akan alat yang dipergunakan. Oleh karena itu sekarang ini dalam persyaratan akreditasi sebuah rumah sakit, diatur agar alat-alat kesehatan yang ada di rumah sakit harus terkalibrasi oleh sebuah laboratorium yang juga sudah terakreditasi oleh KAN

Kalibrasi untuk kasus seperti incubator melakukan pengujian untuk mengetahui

  1. Adanya Ketidakpastian, misalnya suhu pada ruangan oven tidak akan selalu sama 200° Sebagai contoh Alat standar uji yang dimiliki sebuah laboratorium, memiliki kemampuan membaca pergerakan suhu setiap 1 detik, maka ketika kita memasang alat standar uji selama 5 menit, kita akan bisa mengetahui besaran pergerakan suhu per detik, sehingga bisa diketahui rentang perbedaan suhu selama 5 menit ( variasi total / Variasi Overall  berdasarkan reff Acuan Standar internasional AS2853). Bayangkan bila suhu incubator dipasang/ Diset pada 35° C, rata-rata suhu pengujian bisa saja tepat 35°C, namun ternyata besaran pergerakan suhu adalah 30 ?C – 40  ?C (adanya variasi suhu dan ketidakpastian ), berarti bayi akan merasakan panas antara 30 ?C – 40  ?C atau 35°C ± 5 °C.
  2. Penyimpangan rata-rata dari suatu alat,  misalnya parameter alat 100° C , sedangkan rata-rata pengukuran menggunakan alat standar uji menyatakan hasilnya 115°C, maka dikatakan alat menyimpang + 15°C.
  3. Variasi suhu dalam satu ruang. Misalnya berapa besaran suhu di pojok kanan (atas, bawah,  tengah), pojok kiri (atas, bawah, tengah) , di tengah ? Mungkinkah suhu di tempat bayi tidur lebih panas daripada suhu di bagian pinggir ? Oleh karena itu pengukuran suhu perlu juga dilakukan di 10 titik area  yang berbeda di dalam satu ruang( jumlah titik sensor  dihitung sesuai volume ruangan oven/incubator, reff AS 2853.

Dengan memahami pentingnya melakukan kalibrasi parameter pada alat, maka kitapun bisa ikut berpartisipasi untuk menciptakan proses tanpa kesalahan. Apalagi jika kesalahan bisa berakibat fatal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *