Seperti yang kita ketahui, dalam aktifitas pengukuran baik dalam sebuah pengujian kimia dan kalibrasi salah satu aktifitas yang kerap kali dilakukan adalah melakukan pengukuran secara repeatibility berdasarkan metode dan referensi yang di adopsi. Dari fenomena tersebut terkadang kita temukan beberapa data yang dihasilkan pada saat melakukan pengukuran repeat memiliki nilai ekstrem/menyimpang jauh dari nilai rata-rata yang didapat, sebutlah misal nilai X. Lalu apakah nilai X tersebut bisa di defisinikan tidak merepresentasikan hasil pengukuran repeat yang dilakukan, apakah dalam pada saat melakukan pengolahan data nilai X dapat di hapus/buang dan apa acuan yang dapat dijadikan rujukan dalam hal ini agar pengolahan data yang dilakukan tetap memenuhi persyaratan secara statistik.

Dalam pengolahan data secara statistik, untuk melakukan seleksi data dikenal 2 metode yang digunakan, yaitu Dixon dan Grubbs, masing-masing memiliki fungsi dan kualifikasi berdasarkan jenis data yang dihasilkan, secara garis besar biasanya:

  1. Cara Dixon, digunakan sebagai teknik/metode yang digunakan menseleksi data dengan nilai ekstrim tunggal.
  2. Cara Grubbs, digunakan sebagai teknik/metode untuk menseleksi data dengan nilai ekstrim berpasangan pada 1 posisi.

Untuk memperluas paparan, mari kita perjelas dan bahas satu-persatu.

1. Cara Dixon   

Pada metode Dixon, data dikelompokkan dari data terendah sampai data tertinggi. Dimana data juga dapat dibagi menjadi 3 kelompok.

  • Kelompok 1 yaitu untuk data dengan jumlah 3 sampai 7
  • Kelompok 2 yaitu untuk data  dengan jumlah 8 sampai 12
  • Kelompok 3 yaitu untuk data dengan jumlah 13 sampai 40 data

Dan masing masing kelompok terdiri lagi dari 2 bagian yaitu untuk data terendah dan tertinggi.

Selanjutnya jika kita merujuk rumus pada table di atas, didapat nilai D lebih besar dari nilai kritis, maka data terendah/tertinggi perlu dibuang. Sebaliknya jika hasil perhitungan lebih kecil dari D kritis maka data ekstrim dapat digabungkan dengan data lain.

Dibawah ini contohnya:

Data penetuan kadar protein pada ikan

Pada table terlihat data pertama dan data kedua cukup berbeda dari data lainnya. Karena jumlah data (n) = 12 maka rumus yang digunakan adalah:

Dari tabel 1 untuk jumlah data 12 nilai D kritis adalah 0.479 dan karena D hitung < D kritis maka data ke-1 tidak perlu dibuang.

2.Cara Grubbs

Dari tabel 1 untuk jumlah data 12 nilai D kritis adalah 0.479 dan karena D hitung < D kritis maka data ke-12 pun tidak dibuang. Oleh karena itu agar dapat menyeleksi data tersebut dengan lebih cermat maka dapat dilakukan seleksi data lain yaitu dengan cara Grubbs. Pada metode Grubbs terdapat 3 macam rumus, dimana masing-masing rumus memiliki fungsi tersendiri yaitu:

  1. Rumus yang pertama (G1) berlaku jika hanya terdapat 1 data ekstrim.
  2. Rumus yang kedua (G2) dipakai apabila terdapat 2 data ekstrim yaitu 1 data ekstrim pada posisi terendah dan 1 data ekstrim posisi tertinggi.
  3. Rumus yang ketiga (G3) digunakan ketika terdapat 2 data ekstrim yang posisinya berdekatan satu sama lain (berpasangan).

Adapun rumusnya sebagai berikut:

Data pada contoh soal di atas memiliki 2 data menyimpang yang berpasangan sehingga untuk kasus ini digunakan rumus G3 untuk menyelesaikannya.

Pada tabel 3 dibawah ini dapat dilihat untuk kolom G3 dengan jumlah data 12 dan tingkat kepercayaan 95% nilai kritisnya adalah 0.7004. Karena nilai hitung G3 lebih besar dari data tabel maka data ke-1 dan data ke-2 harus dibuang. Sisa data dapat diolah lebih lanjut:

 

Aplikasi rumus Grubbs (G1) penerapanya tertera dibawah ini:

Dan aplikasi rumus Grubbs (G2) penerapanya tertera dibawah ini:

Referensi:

  • Dikutip dari diskusi forum kalibrasi indonesia
  • Berbagai sumber yang di kutip secara bebas tanpa menghilangkan arti dan makna

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *